Jumat, 19 Oktober 2007

That's a Real!!








Beberapa hari lalu obrolanku dengan salah satu temen YM masuk ke area ‘serius’ *secara aku susah bener klo ngobrol masalah serius* Diawali dari kalimat yang aku kirim ke semua temen YMku: “Berapa lamakah kau akan tetap menggelepar menggantung di sayap orang? Kembangkan sayapmu sendiri dan terbanglah lepas seraya menghirup udara bebas di taman luas. Dr.Sir.M.Iqbal,”

Obrolan berlanjut dengan pembahasan tentang Dr.Sir.M.Iqbal, Nah, Pak Andri yang baik ini pernah membaca buku memuat kutipan kisah tokoh fenomenal ini, dan dari buku itu dia mendapat satu kisah yang menarik: Saat Sir Iqbal kecil, sang ayah pernah memberikan satu pertanyaan di saat beliau sedang membaca Al-Qur’an, “Untuk apa kamu membaca Al-Qur’an?” sampai berkali-kali. Seorang Sir Iqbal kecil pun bingung, “ini pertanyaan yang aneh,” batinnya. “Kenapa saya membacanya…?!” Akhirnya sang ayah berjawab, “Wahai anakku, bacalah…Al Qur’an, sebagaimana ia diturunkan kepadamu..”

Pak Andri mulai mengajakku berpikir, “Bacalah…Alquran, sebagaimana ia diturunkan kepadamu, kalimat yang sangat singkat bukan? namun padat makna,” “ini yang selama ini tidak ada dalam diri umat bahkan banyak yang menyerahkan urusan dan perihal Al-Quran ini pada segolongan pihak seperti para Kiyai, ulama, santri, ustadz dan sebagainya. Padahal Al-Quran bukanlah monopoli mereka-mereka itu, AL-Quran adalah hak setiap insan yang beragamakan Islam dan meyakini Muhammad SAW adalah nabinya. Bayangkan mbak? *aku langsung bayangin tuh* jika kata-kata itu terlontar dari guru ngaji mbak. Kira-kira apa yang yg kemudian akan mbak lakukan?”

Jujur saat itu aku gak ngerti mau jawab apa, abisnya kepalaku bener2 gak punya jawaban buat pertanyaan yang—diimaginasikan—ditanyakan guru ngaji kepadaku *emang guru ngajiku pasti nanyain itu ya??*

Habisnya klo emang kata-kata itu terlontar dari guru ngajiku, yang pasti aku bakalan manggut-manggut sok tau, padahal pengennya garuk-garuk kepala…hehehe….

Sedikit mengutip dari buku Quranic Quotient_Udo Yamin Efendi Majdi:

Dari miliaran kaum muslimin, hanya sekian persen yang bisa baca Al Qur’an.

Dari yang bisa baca Al Qur’an, hanya sedikit yang paham.

Dari yang paham Al Qur’an, hanya segelintir yang menghafalnya.

Dari yang hafal Al Qur’an, hanya beberapa yang mengamalkannya.

Dan, dari yang mengamalkannya, hanya sekian orang yang ikhlas.

Aku pribadi merasa ngeri waktu membaca paragraf ini, apakah ini realita yang sebenarnya? di mana ya posisiku?? di mana posisi Anda??

Tapi kalau dilihat-lihat kondisi sekarang, sedikitnya anak-anak kecil belajar mengaji di mushola-mushola, berkurangnya kepedulian orang tua dengan pendidikan agama anak, kurangnya pengajar mengaji *huaaaaa…jep, kemana lo sin!!*.

Dilihat bahwa semakin berkurangnya manusia ’memegang’ Al-Qur’an, menjadikan Al Qur’an sebagai pajangan bukan pegangan, menjadikan Al Qur’an sebagai asesoris rumah bukan ’cahaya’ rumah, menjadikan Al-Qur’an identik dengan para Kiyai, ulama, santri, ustadz bukan identik dengan dengan insan yang beragamakan Islam dan meyakini Muhammad SAW adalah nabinya. Bisa dipastikan kutipan di atas adalah realita.

Betapa menyedihkan realita yang ada…

Kitab yang difirmankan sendiri oleh Allah SWT untuk seluruh hambaNya, kitab yang seharusnya menjadi petunjuk seluruh umat muslim di dunia, Tapi…kenapa hanya sering menjadi pajangan tanpa ada keinginan untuk lebih mengenal kitab??

Kira-kira apa yang akan mbak lakukan??

Masih garuk-garuk kepala hehehe…

Mulai dari diri aku sendiri!! Ngajak adek-adek belajar juga *klo gak mau hajar langsung…wick…salah ya? ;p*

AYO…AYO…mulai belajar mengenal Al Qur’an yang pastinya menjadi cahaya untuk kita dalam menjalani kehidupan

0 komentar: